Terik matahari membuat burungpun enggan untuk terbang. Begitupun aku, sendiri enggan keluar kelas. Siang ini begitu panas. Aku lebih memilih diam dikelas saat temanku mengajak untuk ke kantin.Ketika asyik memperhatikan kegiatan anak-anak dikelas, aku dikagetkan oleh sebuah suara.
"Nid !", tegurnya
Aku menoleh, "Ha? Apa? kok kamu tiba-tiba ada disini? kapan datengnya?" tanyaku heran
"Kamu sih ngelamun terus ! eh, pulang sekolah kemana?"katanya seraya duduk disebelahku
"Kenapa emang, Ricky ? kamu mau tau aja deh !" candaku
"Serius !" kata Ricky, badannya didekatkan padaku. Aku menahan badannya agar tidak semakin dekat.
"Iya aku jawab, tapi gausah kayak gini. Aku gak kemana-mana kok. emang ada apa ?" tanyaku. Badannya kembali tegak seperti semula.
"Ya udah pokoknya pas pulang sekolah kamu tunggu aja ya dikelas" katanya sambil tersenyum dan pergi meninggalakanku yang penuh dengan keheranan. Aku diam memandang dia sampai sosoknya tak lagi terlihat.
"Aneh" kataku dalam hati.
Tak lama bel tanda masuk berbunyi. Aku tiba-tiba lemas karena setelah ini adalah pelajaran yang aku benci, fisika. Siap-siap untuk terkantuk-kantuk dengan celoteh guru fisikaku. Semoga pelajaran ini tidak membuatku mati dalam kebosanan.
Sekolah telah usai 30 menit yang lalu, namun Ricky belum juga nampak batang hidungnya. Kulihat jam dindnig kelasku, sudah menunjukkan pukul 14.30.
"Emang aku anak kecil apa ?!" kataku marah dan segera naik ke motor.
"Iya-iya deh terserah kamu. Yuk kita pergi ke tempat biasa !" Ricky pun melajukan motornya.
Di perjalanan aku hanya melamun, memikirkan kejadian tadi. Ternyata Ricky masih menyimpan persaannya pada Mischa, padahal mereka sudah putus 6 bulan yang lalu dan Mischa pun sudah mempunyai pacar. Aku mengerti, sulit untuk melupakan orang yang sudah terbiasa hadir dikehidupan kita. Apalagi mereka sudah berpacaran selama 1 tahun. Namun, sikap Ricky pada Mischa membunuh perasaanku sendiri. Ya, aku akui aku sudah lama meyimpan rasa ini selama 5 tahun pada Ricky. Sejak kelas 2 SMP aku memulai rasa ini dan sekarang aku di pertemukan kembali di SMA. Mungkin sekarang aku ditakdirkan untuk menjadi sahabatnya saja. Entahlah 5 atau 6 tahun kemudian, apakah kita masih tetap seperti ini dan menemukan pendampingnya masing-masing atau kita bersatu menjalani kehidupan ini bersama sebagai seorang pasangan ? Aku tidak tahu.
"Heh , udah nyampe nih ! kamu gak turun ? bengong aja kamu" ucapan Ricky membuyarkan lamunanku.
"Hah ? udah nyampe ? kok cepet ?" kataku sambil turun dari motor
"Kamu kenapa sih kebanyakan bengong daritadi ?" katanya heran
"Ah gak kenapa-kenapa kok. Ayo masuk deh cepetan" kataku, mendorong Ricky untuk masuk segera ke Cafe.
Inilah tempat yang sering kita kunjungi. Tempatnya asyik buat nongkrong. Pokoknya anak muda banget gitu, kalau malam minggu ada live music- nya. Setelah masuk kita segera mencari tempat duduk yang enak dan pilihan kita jatuh pada tempat duduk yang dekat jendela yang langsung menghadap pada pemandangan gunung.
Pelayan pun memberikan menu-nya. Kita memilih makanan dan minuman yang akan dipesan. Sambil menunggu pesanan kita mengobrol.
"Kamu kok bisa-bisanya lupa gitu sama aku ?"kataku
"Maaf atuh kan namanya juga keasyikan ngobrol. Oh iya, bantuin aku dong. Mischa kan bentar lagi ulang tauhn. Aku mau bikin scraft book buat dia" pintanya.
Aku diam sejenak. Aku lelah karena harus selalu dilibatkan dalam hal seperti ini dan seringkali berhubungan dengan Mischa. Bukannya aku tak mau membantu sahabatku sendiri tapi ini terlalu meyakitkan.
"Emang kapan kamu mau mulai bikinnnya ? Oke aku bantu"
"Mungkin besok. Nanti antar aku ya buat beli bahan-bahannya" katanya.
Tiba-tiba pelayan datang dengan membawa pesanan kita. Aku memesan es krim yang tadi di janjikan oleh Ricky dan dia memesan roti bakar.
"Janjiku lunas ya nid, es krimnya udah. Ternyata rasa marah kamu tuh seharga es krim he he he " tawa dia menggodaku.
"Oh ya udah nanti-nanti kalo aku marah aku mau es krim yang terbuat dari bubuk emas, berlian, permata"
kataku. Tawanya Ricky pun semakin menjadi. Sebenarya aku tidak bisa marah pada Ricky, perasaanku padanya dapat menutupi rasa marah dan kekesalanku.



