Kau tak tahu rasanya berjalan di kegelapan
Yang kau lihat hanyalah hitam..
Pagi ini begitu cerah, tapi tidak untukku. Meskipun cerah aku tidak bersemangat untuk beranjak dari kasur, karena ini hari minggu.Waktunya bermalas-malasan.
"Megaaaaan" suara Ibu memanggilku dari luar. Ibu itu seperti alarm bagiku, bahkan suara alarm terkalahkan dengan suara ibu yang begitu cerewet.
"Emmmm" aku menggeliat di kasur, rasanya sangat malas setidaknya hanya untuk terduduk.
"Bangun cepat ! siram tanaman, hari minggu bukan berarti bermalas-malasan" seru ibuku menggedor kamarku
"Iya iya" aku menyikap selimutku dan beranjak menuju kamar mandi dengan langkah lunglai.
Di kamar mandi aku hanya mencuci muka.
Setelah selesai, aku segera turun ke bawah menuju lantai satu. Di bawah terlihat ibu sedang merapikan ruang tamu.
"Ko keluar pake piyama belel gitu? malu dong" tanya ibu saat aku melewatinya.
"Males bu, biarin aja orang mau liat apa"kataku seraya berjalan keluar rumah.
Matahari di luar sudah mulai tinggi, aku segera mengambil selang dan menyiram tanaman. Ibu senang dengan tanaman hias, halaman rumahku penuh oleh tanaman kesukaannya
Saat asyik memyiram terdengar sebuah suara.
DUUGG
Seperti suara orang terjatuh. Aku segera keluar pagar dan melihat siapa yang terjatuh itu.
Diluar pagar aku melihat seorang anak laki-laki sekitar seusia denganku, meringis kesakitan memegangi lututnya. Aku segera menolong untuk membantu ia berdiri. Tapi dia menepis tanganku.
"Udah gak usah di bantu , aku juga bisa sendiri ko !" ujarnya ketus
Aku terkaget.
"Ye gak tau diri, ya udah sana diri sendiri aja !" Aku segera berbalik meninggalkan dia seorang diri.
"Masih ada aja orang sombong kayak dia" gerutuku. Sesampainya di pintu pagar aku melihat kembali laki-laki itu. Dia sudah berdiri membelakangiku dan menjauh. Tapi ada yang aneh dari cara dia berjalan, tangannya terulur seperti hendak meraba sesuatu.
"Dasar aneh" batinku. Aku kemudian melanjutkan pekerjaanku.
Namun, aku jadi tidak fokus. Aku memikirkan laki-laki tadi. Sepertinya aku belum pernah liat orang itu di sekitar komplek. Apa mungkin dia orang baru yang pindah ke komplek ini ? Sudahlah aku tak perlu memikirkan orang sombong seperti dia.
*****
" I hate Monday" slogan itulah yang terpaut dalam pikirku ketika hari senin tiba. Saatnya mulai di sibukkan kembali oleh rutinitas kuliah apalagi sekarang aku sudah semester 4.
Aku menghela napas, rasanya aku ingin setiap hari itu digantikan oleh hari minggu "Everyday should be a HOLIDAY".
Aku melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam 7.45 pagi, kuliah hari ini dimulai pukul 8.30. Aku segera bersiap-siap pergi.
Ayah dan Ibu sudah pergi sejak jam 7 tadi, mereka bekerja di tempat yang berbeda namun berdekatan. Di rumah tinggal aku sendiri seperti anak tunggal, sedangkan kakakku berada di Aussie. Ia mendapat beasiswa untuk berkuliah lanjutan S2.
Setelah selesai mengunci semua jendela dan pintu, aku berangkat menuju kampus. Jarak dari rumahku ke kampus tidak terlalu jauh, sekitar 20 menit ditempuh memakai angkutan umum.
Aku berjalan ke depan gang komplek sambil memasang mendengarkan lagu menggunakan headset. Lumayan daripada melamun.
"Neng berangkat" seorang tetanggaku yang sedang membeli sayur depan rumah menyapaku.
"Eh iya bu berangkat" balasku seraya tersenyum.
Sambil berjalan, aku melihat-lihat rumah yang aku lewati. Namun, langkahku terhenti di depan sebuah rumah. Depan teras terlihat seorang anak laki-laki terduduk. Pandangannya kosong ke depan.
"loh itu kan cowok sombong yang kemarin, oh jadi rumahnya disini toh" batinku.
Aku terus memerhatikan dia dari luar pagar. Tapi sepertinya ia tidak sadar kalau aku sedang memerhatikannya. Entahlah aku merasa penasaran dan aneh dengan laki-laki itu. Tiba-tiba dari dalam rumah keluar seorang wanita setengah baya, yang bisa di pastikan itu adalah ibunya. Aku ingin segera pergi namun sudah terlambat, ibu itu terlanjur melihatku.
"Eh ada tamu, kenapa gak masuk?" kata ibu itu memanggilku.
"Ha ? eh emm eh. Engga ko bu cuma liat-liat halaman ibu aja. Bunganya bagus ya hehe " aku salah tingkah sambil menunjuk bunga yang tak jauh dari pandanganku. Tak sadar ternyata aku sudah benar-benar depan pagar, seperti ingin bertamu.
Ibu itu melihatku bingung, sampai dahinya berkerut.
"Aduh udah jam segini bu, duluan ya bu udah telat ngampus hehe" Aku pamit dan mengambil langkah seribu untuk segera menjauh dari tempat itu. Beruntung, aku tidak harus cape-cape berlari. Ternyat rumah laki-laki itu tak jauh dari gang.
Sesampainya di depan gang, aku menunggu bus yang biasa aku tumpangi. Di perjalanan aku jadi memikirkan kejadian tadi, aku merasa malu sekali dengan ibu itu.
Setibanya di kampus aku masuk kelas. Kuliah dimulai sebentar lagi. Aku segera mengambil tempat duduk sebelah temanku Lena dan aku bercerita kejadian yang aku alami, bertemu laki-laki aneh. Saat sedang asyik bercerita , dosen memasuki kelas dan memulai kelasnya.
*****
Baca Selengkapnya...